Sangat unik menggelitik dan menarik untuk dibicarakan tentang fenomena yang terjadi tentang ending pemilu caleg. Misalnya yang terjadi di Jawa Timur yaitu ada pesta yang dilakukan oleh caleg dan para pendukungnya, untuk merayakan kemenangan terpilihnya caleg jagoannya mereka beramai-ramai menggundul pelontos rambut kepalanya.
Mereka larut dalam eforia kemenangannya yang mungkin mereka sendiri belum sadar akan hakikat kemenangan itu sendiri. Di belahan cerita yang lainnya tak kalah menariknya untuk dibincangkan, yaitu perilaku caleg yang gagal atau kalah bersaing dan hanya mendapatkan suara yang tak habis dihitung dengan sepuluh jari.
Misalnya mereka yang menarik ulang segala sumbangan yang pernah diberikan kepada calon pemilih. Ada yang mengambil paksa televisi yang disumbangkan di pos ronda, ada juga yang menarik kembali dengan paksa karpet yang disumbangkan pada ibu-ibu pengajian sampai timbul konflik, ada yang menarik kembali rebana yang juga disumbangkan pada majelis ibu-ibu.
Ada pula yang lebih terpuruk yaitu mengalami perilaku yang sangat aneh alias depresi atau stress. Eforia kemenangan mungkin wajar saja untuk dilakukan, namun yang menggelikan adalah menyikapi kekalahan dengan depresi atau stress. Kenapa menggelikan? Coba kita lihat waktu mereka berkampanye, sejuta aksi janji yang bombastis ‘atas nama masyarakat aku rela berjuang’.
Tapi mengapa selembar karpet, sebuah televisi, rebana ditarik kembali? Mengapa kegagalan para caleg cukup menghantam physic mereka? Tentunya ini terjadi karena semua yang dilakukan dengan sistem dagang alias jual-beli yang berujung pada untung-rugi. Jadi dimana kata yang sangat bombastis itu bersembunyi. Pasti akan ada harga yang harus dibayar untuk mendapatkan sesuatu, itu mungkin sebuah rumus hidup yang harus kita sadari.
Sebuah analogi berikut mungkin mampu menjernihkan kembali cermin pemahaman kita. Apabila kita menginginkan segelas es untuk melegakan tenggorokan kita pasti kita harus mengeluarkan uang dari kantong kita lalu kita bisa menikmati es tersebut.
Namun cerita lain ada pula yang tidak berhenti dari hanya mengeluarkan uang dari kantong kita, mungkin cerita masih berlanjut setelah kita mengeluarkan uang dari kantong kita ternyata segelas es tidak jadi kita minum karena segelas es tersebut jatuh dan kita pun gagal menyudahi dahaga dengan segelas es. Banyak lagi analogi yang bisa kita kaitkan dengan case ‘pasti akan ada harga yang harus dibayar untuk mendapatkan sesuatu’. Para caleg yang gagal bukannya mereka tidak mendapatkan apa-apa dari dari yang mereka bayar, tapi mereka telah mendapatkan apa yang diniatkan yaitu ambisi. Jadi apa yang mereka bayar hanyalah ambisi.
Namun tidak semuanya para caleg yang gagal membayar ambisi. Mungkin ada pula yang membayar sebuah pembelajaran hidup yang luar biasa. Mungkin ada pula yang membayar sebuah kapling sejarah untuk nama mereka, dan banyak lagi hal yang dibayar.
Sangat manusiawi dan mungkin sudah termasuk software dalam diri manusia untuk merasa terpukul dan goyah apabila dihantam sebuah kegagalan. Dan sebenarnya software tersebut adalah software virus yang harus kita lumpuhkan.
Namun yang menjadi permasalahan adalah masing-masing orang memiliki kekuatan imun yang berbeda-beda tergantung latar belakang ilmu, pendidikan, pengalaman, agama, lingkungan dan banyak lagi vaksin yang mendukung imun physic seseorang. Begitu juga dengan apa yang dialami semua kontestan caleg saat ini.
Ada yang biasa-biasa saja, ada yang 2 minggu baru bisa tidur pulas, ada yang masuk rumah sakit jiwa dan banyak lagi ragam pernak-perniknya. Kembali lagi pada imun physic, orang bijak berkata ‘Bukan beratnya beban yang membebani pundak kita namun bagaimana cara kita mengangkat beban itu’. Jaid bukan hal yang luar biasa sebenarnya apa yang terjadi dengan fenomena disekitar kita tentang pernak-pernik setelah pemilu.
